
Mungkin kita semua sudah tau kalau keris adalah suatu bentuk warisan budaya indonesia.
Keris memiliki ciri khas tersendiri selain bentuknya yang berlekok-lekok (Luk) keris juga memiliki nilai seni estetik yang sangat tinggi.
Bukan itu saja, menurut sudut pandang sebagian besar orang menyatakan bahawasanya, keris juga memiliki banyak simbol spiritual.
Hal-hal umum yang menarik diperhatian dalam morfologi keris adalah kelokan (luk), ornamen (ricikan), warna atau pancaran bilah, serta pola pamor.
(Minggu, 7 agustus 2022). SEPUTAR KERIS & BUDAYA menyambangi salah satu kediaman senior tosan aji yang berada di Kecamatan kaliwungu, Kabupaten Kudus.
Beliau bernama Andi Darmawijaya, salah seorang senior di dunia tosan aji, Bukan hanya di Kudus, beliau bahkan sudah menjelajah kota-kota di indonesia.
Saat kami di persilahkan masuk ke dalam rumah, kami di buat takjub saat melihat hampir seisi rumah di penuhi oleh ratusan burung perkutut dan juga puluhan keris yang di tempel di dinding rumahnya.

Andi Darmawijaya mulai terjun ke dunia tosan aji pada tahun 1997.
“Kalau tidak salah saya terjun ke dunia tosan aji sejak tahun 1997. Tapi saya belum terlalu mencintai dunia tosan aji, walau saya sudah punya banyak keris di rumah. Keris yang saya dapat dari orang-orang sekitar, ada juga yang dari teman. Semua di kasih ga ada yang beli.”
Begitu tutur beliau sambil sesekali di selingi oleh canda tawa. Beliau juga menceritakan bahwa hoby di dunia perkerisan juga hampir tidak di setujui oleh ayahnya waktu itu.
“Dulu hoby saya di dunia perkerisan hampir tidak di setujui oleh ayah saya. Kata beliau, dirinya tidak pernah mengumpulkan benda-benda seperti itu.
Tapi justru di situlah saya punya keyakinan yang tinggi, saya berfikir kalau orang tua saya mungkin sedang menguji seberapa kuat mental saya mendalami hoby saya ini”.

Sembari ngobrol, om Andi mengambil berbagai macam keris yang di perlihatkan kepada kami. Keris dengan berbagai macam bentuk dapur Ada brojol, sabuk inten dll, bukan hanya keris beliau memperlihatkan tombak dan sunduk maru juga.
Keris dan tombak berbagai dapur dan era yang di hiasi berbagai macam pamor yang membuat seninya semakin terlihat indah.
Saya coba mengambil salah satu keris yang di taruh di meja.
“Itu sabuk inten mataram, kalau menurut saya itu mataram era Srimangati. Dia hampir mirip Sultan Agung tapi pamornya tidak se Byar Sultan Agung, ini lebih byar dan lebih pipih untuk kisaran harga keris ini 3jt”.
Tutur beliau saat saya tanya jenis dapur, tangguh, dan kisaran harganya.
Beliau juga memperlihatkan keris megantoro koleksinya pada kami.
“Ini dapur sederhana tapi banyak yang nyari, banyak yang suka. Ini keris megantoro kemarin udah di tawar orang 5jt tapi enggak saya kasih, saya masih pingin nyimpen dulu karena belum dapat gantinya.
Dapur megantoro ada yang luk 5 ada yang luk 7, dapur ini dulu sengaja di ciptakan untuk seorang raja. Ini pamornya ceprit, gonjonya wilut”
Beliau dengan sabar menjelaskan satu per satu kepada kami. Lalu kami bertanya kepada beliau apakah punya pusaka andalan atau kesayangan. Sembari tersenyum beliau melangkah mengambil keris yang ia tempel di dinding.

“Keris ini punya banyak kenangan dengan saya. Dapur keris jangkung mangkurat, pamornya pedaringan kebak, est cirebon era mataram.
Ini tidak saya jual karena keris ini sudah seperti teman saya, punya banyak kisah, punya banyak kenangan. Jadi saya tidak menjualnya, ini jadi pusaka pribadi. Karena uang bisa di cari tapi sesuatu yang sudah menyatu, punya banyak kisah dan kenangan itu sesuatu yang luarbiasa”.
Tutur beliau sembari tersenyum. Beliau menjelaskan dengan sabar dan rinci kepada kami. Memberi banyak ilmu dan wawasan.
“Ketika ada yang bertanya-tanya, saya selalu jawab dengan jujur, saya tidak mau pelit ilmu kalau saya tau ya saya jawab kalau tidak ya tidak. Pesan saya ya mari sama-sama melestarikan bentuk warisan budaya bersama-sama, tidak perlu merasa paling tahu lalu terjadi perdebatan, mari sama-sama memberi edukasi kepada masyarakat dengan baik. Kalau kita pelit ilmu, pelit informasi, merasa lebih senior dll. Bagaimana nasib anak muda kedepanya dalam memahami bentuk warisan budaya ini”.Itulah pesan beliau sebelum kami berpamitan pulang. Sungguh luar biasa, selain menjadi sosok yang melestarikan bentuk warisan budaya dan juga nilai-nilai kebudayaan, beliau juga orang yang sangat baik, tegas dan bijaksana.
Pada kesempatan lain kami akan menyambangi beliau kembali untuk guna membahas tentang tosan aji yang lebih mendalam.
Salam budaya. Salam literasi


Narasumber : Andi Darmawijaya
Penulis : AN.Sastra J
Dokumentasi : Yusron Syarif
media : Seputar Keris & Budaya
Satu tanggapan untuk “KERIS SEBAGAI BENTUK WARISAN BUDAYA”
Mantab kak, sangat bermanfaat sekali tulisan nya untuk menambah wawasan seputar perkerisan
SukaDisukai oleh 2 orang