
Carubuk yakni salah satu dhapur Keris luk 7 dengan panjang bilah sedang, nglimpo, tanpa odo-odo, menggunakan kembang kacang, lambe gajah satu, menggunakan sraweyan dan juga greneng. Keris dhapur Carubuk biasanya dimiliki oleh orang-orang yang mendalami Dunia Spiritual.
Keris Kyai Carubuk merupakan Pusaka milik Kanjeng Sunan Kalijaga yang merupakan mahakarya ketiga dari Empu Supa Mandrangi selain Keris Kyai Sangkelat dan Keris Kyai Nagasasra. Keris ini juga merupakan salah satu Keris pusaka peninggalan Kerajaan Mahapahit.

Dikisahkan dalam sebuah cerita masyarakat dimana, Sunan Kalijaga saat itu meminta tolong kepada Empu Supa Mandragi untuk dibuatkan sebilah pisau semi pedang yang akan digunakan sebagai penyembelihan kambing.
Guna mempermudah pemesanannya itu, Sunan Kalijaga membawa sendiri bahan mentah besi bakal pisau yang dipesannya. Namun, tak sewajarnya bahan mentah yang diberikan pada mpu Supa, akan tetapi hanya berupa biji besi yang ukurannya tidak lebih sebesar biji asam jawa.
Saat melihat besi mentah yang disodorkan Raden Sahid (Sunan Kalijaga) Empu Supa terkejut karena besi yang ukurannya kecil itu mana mungkin cukup dibuat sebilah pisau semi pedang yang ukurannya lumayan besar.
Pada mulanya mpu Supa sudah masam muka dan tidak yakin dapat menyelesaikan pesanan sang Sunan.
Akan tetapi Sunan Kalijaga yang dapat membaca kegelisahan mpu Supa, langsung meyakinkan Sang Empu itu bahwa hanya bentuknya saja yang kecil tetapi sebenarnya besarnya seperti gunung.

Entah berapa lama Empu Supa menggarap besi ajaib dari Raden Sahid (Sunan Kalijaga) tersebut hingga selesai, yang jelas bukan dengan waktu yang singkat. saking lamanya, Sunan Kalijaga hampir lupa bahwa dirinya pernah memesan sebilah pisau pada Empu Supa.
Jelang beberapa tahun lamanya saat Sunan Kalijaga ingat bahwa ia pernah memesan pisau, barulah beliau bergegas menuju padepokan Empu Supa guna menanyakan perihal pisau pesanannya tersebut.
Ketika bertemu Empu Supa, Raden Sahid (Sunan Kalijaga) pun sangat senang karena Empu supa mengatakan bahwa pesanannya baru rampung sehari sebelum datangnya Raden Sahid itu.
Saat hasil pesanannya diberikan, alangkah terkejutnya Sunan Kalijaga melihat karya dari Sang Empu itu. Bagaimana tidak, pisau pesanannya itu berwujud sebilah keris yang indah dan memiliki pawakan wujud dengan karisma tinggi. Hal itu membuat Sunan Kalijaga kagum karena keris itu berbeda jauh sekali dengan yang dibayangkannya dahulu saat memesan.
Kagumnya perasaan Kanjeng Sunan Kalijaga membuat air matanya menetes seraya memeluk Empu Supa dan kemudian keris tersebut dinamai Keris Kyai Carubuk.
Dikemudian hari, keris Kyai Carubuk ini dihadiahkan kepada Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir yang tidak lain adalah muridnya sendiri sebagai piandel dalam menuju tampuk kekuasaan sebagai Raja Pajang.
Dalam legenda lain disebutkan bahwa, keris Kyai Carubuk ini pernah juga digunakan Jaka Tingkir dalam pertempuran mengalahkan Arya Penangsang yang menggunakan Keris Kiai Setan Kober.
Dari kabar yang beredar, menjelang akhir hayat, Jaka Tingkir menyimpan keris tersebut di makam gurunya (Sunan Kalijaga) dan memberikan satu pesan kepada anak cucunya. Dimana pesan tersebut mengatakan, kelak untuk jangan pernah melihat wujud dari keris tersebut, sekalipun saat hendak menjamasinya (harus dengan mata terpejam). Selain itu Jaka Tingkir juga berpesan, kelak jika memang keris ini diperlukan fungsinya dalam kenegaraan, maka dia akan datang sendiri kepada pemipin yang bijak.
Konon, Presiden Indonesia yang pernah memegang keris ini adalah presiden Soekarno dan Soeharto. Dimana, datangnya keris kepada kedua tokoh itu, sangat penuh misteri tersembunyi dan saat pemegangnya lengser, keris itupun kembali ke peti penyimpanannya di makam Sunan Kalijaga.
Banyak versi tentang kisah Keris Carubuk ini dan akan ada perdebatan tentang hal ini, tetapi garis besar sejarah pembuatannya tidak jauh berbeda.
