
Guyang Cekathak merupakan ritual memohon agar turun hujan. Tradisi ini juga termasuk salah satu kearifan lokal untuk melestarikan alam di kawasan lereng Gunung Muria. Guyang atau lebih mudah diucapkan ngguyang yang berarti memandikan, dan Cekathak sendiri disini merupakan pelana kuda yang terbuat dari kayu.
Tradisi memanggil hujan yang sudah berlangsung sejak era Sunan Muria itu dilaksanakan setiap September pada Jumat Wage, atau setiap jumat wage mongso ketigo

Jumat (30/9/2022). Rangkaian acara Guyang Cekathak ini dilakukan oleh warga sekitar Muria. Dengan dibawanya Cekathak dari komplek Masjid Muria menuju mata air Sendang Rejoso. Yang nantinya Cekathak (pelana kuda) tadi akan dimandikan disana. Menurut cerita turun temurun orang-orang disana, Sendang Rejoso merupakan tempat wudhu Sunan Muria, karena lokasinya yang memang tidak jauh dari sana.
Tradisi ini semula dilakukan untuk mengajak masyarakat sekitar Gunung Muria untuk melestarikan sumber air yang berada di kawasan Muria.

Setelah dimandikan, air Sendang Rejoso kemudian dipercik-percikkan kepada warga sebagai ungkapan kebahagiaan bahwa Sendang yang menopang hidup Sunan Muria dan masyarakat sekitarnya masih tetap memancarkan air. Setelah prosesi pemandian usai, dilanjutkan dengan selamatan do’a bersama dan makan bersama dengan makanan khas daerah Muria, yaitu sayur-mayur yang dipadu dengan parutan kelapa, opor ayam, dan juga gulai kambing. Diakhir acara, secara bersama warga meminum dawet khas Kudus yang melambangkan harapan warga agar segera turu hujan.

