,

LEGENDA SENDANG WIDODARI DESA DAREN NALUMSARI

Desa Daren merupakan salah satu desa yang masuk wilayah Kecamatan Nalumsari Kabupaten Jepara
Desa daren terdapat beberapa tempat wisata, yaitu: Makam Jaka Tarub (Mbah Daren) dan Belik/ sendang Bidadari

Yang menarik dari Sendang Widodari di desa daren adalah terkaitnya legenda tentang Jaka Tarub dan bidadari. Sendang Widodari sebagai tempat yang melatarbelakangi pertemuan antara Jaka Tarub dan bidadari.
Lantas siapa sebenarnya Jaka Tarub?.

Pada jaman dahulu ada seorang pengembara yang bernama Kadarisman yang berasal dari Kerajaan Mataram bersama abdinya bernama Dowo (Mbah Dowo). Karena dia belum menikah dan sering mengembara dia di juluki Joko Lelono. Waktu pengembaraannya sampai disebuah desa (sekarang Desa Daren) dia bertemu seorang janda yang bertempat tinggal di sebuah gubug/tarub, kemudian Joko Lelono dijadikan sebagai anaknya. Karena dia tinggal di sebuah gubug / tarub, sehingga dia dijuluki sebagai Joko Tarub.

Pada suatu hari pengembaraan Joko Tarub sampai di sebuah bukit kecil dia mendengar suara burung perkutut yang sangat merdu sehingga dia ingin menangkapnya.
Waktu dia mengendap-endap ingin menangkap burung perkutut tiba-tiba dia mendengar suara orang yang sedang mandi sehingga tidak jadi menangkap burung perkutut itu. Karena ingin tahu siapa yang sedang mandi dia mengendap-endap menghampiri.

Setelah diintip ternyata yang sedang mandi adalah 40 Bidadari. Karena penasaran dia mengambil salah satu pakaian bidadari tersebut dan dibawa pulang.
Pada waktu selesai mandi para Bidadari bermaksud pulang kembali ke alamnya. Ternyata salah satu Bidadari yang bernama Nawang Wulan tidak menemukan pakaiannya yan dipakai untuk terbang / selendang. Dia bersama saudara-saudaranya mencari kesana kemari tetapi tidak ditemukan. Karena tidak menemukan selendang Nawang Wulan dan mereka harus segera pulang, maka para bidadari memutuskan untuk meninggalkan Nawang Wulan sendiri di Bumi.

Sendang widodari desa daren Kec.Nalumsari Kab.Jepara (jep.sastra)

Nawang Wulan berada sendirian di bumi dan tidak mempunyai sanak saudara sehingga merasa sangat kesepian dan sengsara. Kemudian Nawang Wulan berujar barang siapa yang bisa menolongnya kalau laki-laki akan dijadikan suaminya kalau perempuan akan dijadikan saudaranya. Pada suatu hari dia bertemu dengan Joko Tarub dan diboyong kerumahnya sehingga mereka menjadi suami istri.
Setelah berumah tangga Joko Tarub dan Nawang Wulan mempunyai seorang anak perempuan bernama Nawangsih. Selama berumahtangga Nawang Wulan sering mandi dan mencuci pakaian di sendang yang dulu sering dipakai untuk mandi bersama saudaranya, sehingga sendang tersebut dijuluki sendang Bidadari.

Sendang widodari penuh pengunjung dalam acara kirab budaya malam 1 muharram 1445H

Selama menjadi suami Nawang Wulan Joko Tarub merasa heran karena persedian padi yang ada dirumahnya tidak habis-habis. Nawang Wulan pernah berpesan kepada Joko Tarub dan keluarganya apabila dia sedang memasak agar tidak diganggu atau dilihat oleh orang lain. Karena merasa penasaran, pada waktu istrinya sedang mencuci pakaian disendang, Joko Tarub ingin tahu apa yang sedang dimasak oleh istrinya tersebut. Kemudian Joko Tarub membuka tutup kwali yang dipakai istrinya untuk memasak. Betapa terkejutnya Joko Tarub ketika melihat masakan istrinya ternyata hanya sebatang padi.
Setelah habis mencuci Nawang Wulan memeriksa masakannya, ternyata sebatan padi yang dimasak tidak bisa menjadi nasi, sehingga Nawang Wulan menjadi curiga bahwa masakannya ada yang melihatnya, kemudian Nawang Wulan minta dibuatkan sebuah lesung untuk menumbuk padi menjadi beras. Sejak saat itu padi yang berada di tempat persediaan (lumbung) selalu ditumbuk dijadikan beras. Karena padi ditumbuk setiap hari maka persediaan padi yang ada dilumbung menjadi habis. Pada saat itulah Nawang Wulan menemukan pakaiannya / selendang yang dipakai untuk terbang.

Sendang widodari desa daren di percaya dapat membuat awet muda bagi yang mandi / mencuci muka di sendang widodari

Setelah menemukan pakaian terbangnya Nawang Wulan bersama anaknya yang bernama Nawangsih pamit kepada Joko Tarub untuk pergi meninggalkannya dengan berpesan: kalau ingin bertemu dengan anaknya Joko Tarub diminta untuk membuat anjang-anjang yang dibawahnya diberi sekam dari ketan hitam yang dibakar. Oleh karena itu orang Daren sampai sekarang sekarang tidak berani membuat anjang-anjang termasuk rumah tingkat, juga tidak berani menanam padi ketan hitam. Di Desa Daren ada petilasan makam Joko Tarub yang sampai sekarang dianggap sebagai cikal bakal Desa Daren.

Tontong juga video link di bawah ini

4 pataka kerajaan majapahit yang berapa di USA

Tinggalkan komentar


Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai